BSWlBUr8TSY0Tfd8GpW0GSzlTd==

Banjir Bergeser ke Banten, Alarm Keras Kerusakan Lingkungan dan Tata Ruang

 

Serang, Banten.Kominfo.co.id — Pusat banjir yang selama ini identik dengan DKI Jakarta kini nyaris tak terdengar lagi. Ironisnya, bencana tersebut justru bergeser dan semakin sering melanda wilayah Provinsi Banten. Sejumlah daerah terdampak banjir hampir setiap tahun, bahkan semakin meluas dalam beberapa tahun terakhir.

Di Kabupaten Pandeglang, banjir kembali merendam wilayah Kecamatan Patia dan sekitarnya. Kondisi ini bukan hal baru, mengingat wilayah tersebut merupakan dataran rendah yang secara geografis rawan genangan. Namun yang mengkhawatirkan, banjir kini juga melanda wilayah-wilayah yang sebelumnya relatif aman.

Tempat religi bersejarah Kesultanan Banten turut terdampak banjir. Selain itu, genangan air juga terjadi di Kecamatan Padarincang, Kecamatan Baros — tepatnya di jalan raya Serang–Pandeglang Desa Baros — Kecamatan Petir Kabupaten Serang, hingga beberapa wilayah di Kota Serang.

Wilayah Kecamatan Petir 

Padahal, puluhan tahun silam, kawasan religi Kesultanan Banten, Kota Serang, dan sebagian besar wilayah Kabupaten Serang nyaris tak pernah terdengar dilanda banjir besar seperti saat ini. 

Wilayah Kecamatan Cipocok Kota Serang 

Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius: apa yang sebenarnya berubah?

Faktor Alam atau Ulah Manusia?

Banjir yang kini terjadi tidak bisa semata-mata disalahkan pada faktor alam. Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu, namun kondisi lingkungan dan tata ruang diduga kuat memperparah dampak yang terjadi.

Salah satu faktor yang tak bisa diabaikan adalah perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan saluran air. Sampah yang menumpuk menyebabkan drainase tersumbat, aliran air terhambat, dan akhirnya meluap ke permukiman warga.

Selain itu, penyempitan saluran air dan alih fungsi lahan akibat pembangunan yang tidak terukur dan minim kajian dampak lingkungan juga disinyalir menjadi penyebab utama. Bangunan yang berdiri di bantaran sungai, drainase yang tertutup, serta lemahnya pengawasan tata ruang turut mempercepat terjadinya banjir dan merugikan masyarakat luas.

Peringatan Keras untuk Semua Pihak

Kondisi ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah. Kesadaran kolektif mutlak diperlukan untuk menjaga lingkungan. Masyarakat diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan, mengelola sampah rumah tangga dengan cara dibakar atau dikubur secara aman, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Gotong royong membersihkan saluran air dan lingkungan perlu kembali digalakkan sebagai budaya bersama, bukan hanya saat banjir datang. 

Di sisi lain, pemerintah daerah juga dituntut lebih tegas dalam penegakan aturan tata ruang, pengelolaan drainase, serta pengawasan pembangunan agar tidak menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang.

Jika persoalan ini terus diabaikan, banjir bukan lagi sekadar bencana musiman, melainkan ancaman serius yang akan terus menghantui masa depan Banten dan generasi yang akan datang.(Wasalam)

Komentar0

Type above and press Enter to search.