![]() |
"Sekda... kami sudah punya SK, sudah menjalankan tugas dengan segala kemampuan kami. Tapi bagaimana dengan kami yang harus membiayai keluarga, membeli kebutuhan sekolah anak-anak? Kami sudah menunggu dengan sabar, tapi hari demi hari hanya membawa kecewa dan tangisan yang tak berkesudahan," ucap salah satu perwakilan dengan suara gemetar, air mata terus menetes di pipinya sambil menyeka dengan tangan yang bergelimpangan.
Para perwakilan mengaku telah melalui berbagai tahapan administrasi dengan cermat hingga akhirnya mendapatkan SK yang menjadi bukti status mereka sebagai PPPK. Namun, harapan yang seharusnya membahagiakan justru berubah menjadi rasa kecewa mendalam karena pembayaran gaji yang tak kunjung terealisasi. Tak sedikit di antara mereka yang terpaksa mengorbankan kebutuhan pribadi dan keluarga, bahkan ada yang harus meminjam uang untuk bisa melanjutkan tugas mengajar di sekolah.
"Sekolah membutuhkan kami, anak-anak menunggu kami mengajar. Tapi kami juga manusia yang punya kebutuhan dasar. Setiap malam kami menangis sendiri di kamar, bertanya-tanya kapan keluhan kami akan terdengar dan diperhatikan," tambah seorang perwakilan lainnya dengan mata merah karena menangis.
Hadirnya Sekda Zaldi Dhuhana membuat para perwakilan berharap bahwa keluhan mereka akan segera mendapatkan tanggapan konkret, sehingga mereka tak perlu lagi meratapi kesusahan yang telah mereka alami selama ini.
( Kominfo)


Komentar0