![]() |
Peristiwa ambruknya atap rumah tersebut terjadi pada bulan Ramadan 2026, saat sebagian besar masyarakat tengah menjalankan ibadah puasa. Ironisnya, hingga saat ini belum ada bantuan maupun perhatian dari pihak pemerintah terkait kondisi yang dialami Kalawi.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru tak lagi mampu memberikan rasa aman. Beruntung, saat kejadian Kalawi tidak tertimpa reruntuhan, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan penuh kesedihan dan keputusasaan, Kalawi mengaku tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumahnya sendiri. Hidup seorang diri dalam keterbatasan ekonomi membuatnya hanya bisa bertahan dan berharap adanya uluran tangan.
“Mau perbaiki sendiri tidak punya uang, jangankan untuk perbaiki rumah, untuk makan saja kekurangan. Saya hanya bisa berharap ada bantuan bedah rumah dari pemerintah,” ucapnya lirih.
Kondisi ini tentu mengundang rasa iba dan keprihatinan mendalam. Di tengah berbagai program bantuan sosial yang terus digaungkan, termasuk program bedah rumah, kenyataannya masih ada warga yang belum tersentuh bantuan dan harus tinggal di hunian yang tidak layak, bahkan membahayakan keselamatan.
Kisah Kalawi menjadi potret nyata yang menyayat hati. Di bulan suci yang seharusnya penuh berkah dan kepedulian, ia justru harus menghadapi cobaan berat tanpa adanya perhatian dari pihak terkait.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Blukbuk, pihak Kecamatan Kronjo, maupun pejabat Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi tersebut.
Kominfo (Romi)


Komentar0