Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan

 

SERANG,banten.siji.or.id — Kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman abrasi di bantaran Sungai Ciujung kini menjadi kenyataan pahit bagi sejumlah petani di Kampung Jambu, RT 017/RW 004, Desa Bojong Pandan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten. Lahan garapan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga dilaporkan terkikis air sungai pada Sabtu (17/10/2026), sehingga sejumlah tanaman yang belum sempat dipanen mengalami kerusakan atau hilang.

Peristiwa tersebut menambah kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi bantaran sungai setelah pelaksanaan tradisi Bedolan Bendung Gerak Pamarayan. Warga berharap kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah, bukan hanya sebagai persoalan kerugian pertanian, tetapi juga sebagai peringatan terhadap potensi ancaman yang lebih besar apabila abrasi terus berlangsung tanpa penanganan.

Tanaman kacang tanah, jagung, cabai, sayuran, hingga pohon pisang yang tumbuh di lahan garapan warga dilaporkan terdampak. Sebagian tanaman yang diperkirakan segera memasuki masa panen kini tidak lagi bisa diharapkan memberikan hasil sebagaimana mestinya.

Bagi petani kecil, kejadian ini bukan sekadar kehilangan tanaman. Ada tenaga, waktu, biaya benih, pupuk, dan harapan keluarga yang telah ditanam bersama tanaman tersebut. Ketika lahan terkikis sebelum masa panen, bukan hanya hasil pertanian yang hilang, melainkan juga sumber pendapatan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Lahan pertanian yang terdampak berada sekitar lima meter dari bantaran Sungai Ciujung, dengan jarak diperkirakan sekitar delapan kilometer dari Bendung Gerak Pamarayan, di kawasan hulu.

Sejumlah warga sebelumnya mengaku khawatir terhadap kondisi tanah di sepanjang bantaran sungai. Mereka takut perubahan aliran dan derasnya air dapat mempercepat pengikisan tanah, terutama pada bagian tebing yang berdekatan dengan lahan pertanian.

Kekhawatiran itu kini menjadi kenyataan yang harus mereka hadapi. Warga pun berharap kejadian ini tidak dianggap sebagai persoalan yang selesai hanya dengan pendataan, sementara ancaman abrasi di titik lain masih berpotensi terjadi.

Salah seorang warga menggambarkan kesedihannya atas hilangnya tanaman yang selama ini dirawat dengan penuh harapan.

“Rasanya sedih melihat tanaman yang sudah kami rawat, apalagi sebentar lagi bisa dipanen, justru hilang akibat abrasi. Kami memahami bahwa air sungai memiliki kekuatan yang tidak bisa dilawan, tetapi kami berharap ada upaya nyata untuk melindungi lahan dan keselamatan warga. Jangan sampai kami terus mengalami kerugian tanpa ada penanganan,” ungkap warga.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran kegelisahan masyarakat yang berharap persoalan ini mendapat perhatian sebelum dampaknya semakin luas.

Warga meminta Pemerintah Kabupaten Serang bersama Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3) segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan teknis dan mengambil langkah penanganan yang diperlukan.

Salah satu tuntutan utama masyarakat adalah pembangunan konstruksi pengaman atau penahan bantaran sungai pada titik-titik yang dinilai rawan abrasi. Pembangunan tersebut diharapkan didahului kajian teknis agar jenis konstruksi, kekuatan, dan penempatannya sesuai dengan karakteristik aliran serta kondisi tanah setempat.

Menurut kekhawatiran warga, apabila abrasi terus berlangsung dan tidak segera ditangani, pengikisan tanah bukan tidak mungkin semakin mendekati lahan pertanian lain, bahkan mengancam permukiman di sekitar bantaran sungai.

Masyarakat juga mengkhawatirkan perubahan bentuk bantaran yang dapat membuat alur sungai semakin melebar pada titik-titik tertentu. Karena itu, penanganan dinilai tidak boleh ditunda sampai kerusakan bertambah parah atau rumah warga mulai berada dalam ancaman langsung.

“Jangan menunggu sampai tanah semakin habis atau rumah warga ikut terancam. Kami berharap pemerintah segera melihat kondisi di lapangan dan mencari solusi yang tepat. Kalau memang diperlukan pembangunan penahan tebing, mohon segera dikaji dan direalisasikan. Keselamatan warga harus menjadi perhatian sebelum semuanya terlambat,” demikian harapan warga.

Warga menegaskan bahwa mereka tidak sekadar mengharapkan bantuan setelah kerugian terjadi. Mereka juga membutuhkan perlindungan jangka panjang agar lahan pertanian dan permukiman tetap aman dari ancaman abrasi.

Bupati Serang Diminta Hadir dan Mendengar Keluhan Warga

Informasi mengenai kejadian tersebut disebut telah disampaikan kepada Kepala Desa Bojong Pandan, Hulman, melalui Wadan. Persoalan ini juga telah diinformasikan kepada pihak Kecamatan Tunjung Teja melalui Sekretaris Kecamatan, Nahril Ulum, dengan harapan dapat diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten Serang.

Kini, warga menantikan tindak lanjut dari pemerintah daerah. Mereka berharap Bupati Serang tidak hanya menerima laporan, tetapi juga berkenan meninjau lokasi secara langsung untuk melihat kondisi bantaran sungai dan kerugian yang dialami masyarakat.

Warga menyebut sedikitnya empat orang terdampak dan berharap dilakukan pendataan secara menyeluruh terhadap luas lahan yang terkikis, jenis tanaman yang rusak, serta perkiraan nilai kerugian yang dialami.

Hasil pendataan tersebut diharapkan menjadi dasar penentuan bantuan bagi warga yang memenuhi persyaratan. Bantuan dari pemerintah daerah, Dinas Sosial, BPBD, BAZNAS, maupun lembaga terkait lainnya diharapkan dapat dipertimbangkan sesuai tugas, kewenangan, dan ketentuan program masing-masing.

“Yang kami harapkan bukan hanya datang melihat, kemudian persoalan ini berlalu begitu saja. Kami ingin ada tindak lanjut yang jelas, mulai dari pendataan kerugian, bantuan bagi petani yang terdampak, sampai rencana penanganan bantaran sungai. Kami juga warga Kabupaten Serang yang membutuhkan perhatian dan perlindungan,” menjadi harapan masyarakat.

Permintaan tersebut disampaikan bukan untuk menyalahkan pihak tertentu tanpa dasar, melainkan agar pemerintah hadir memberikan kepastian dan solusi atas persoalan yang dihadapi warga.

Bedolan Bendung Gerak Pamarayan merupakan tradisi yang memiliki nilai kearifan lokal dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, pelestarian tradisi perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, keselamatan warga, dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat di sekitar sungai.

Abrasi yang terjadi di Kampung Jambu menjadi alasan penting bagi semua pihak untuk mengevaluasi kondisi bantaran sungai secara menyeluruh. Kajian perlu mencakup stabilitas tanah, karakteristik aliran, potensi pengikisan, serta kemungkinan dampak terhadap lahan pertanian dan permukiman.

Meski warga mengaitkan kekhawatiran mereka dengan pelaksanaan Bedolan Bendung Gerak Pamarayan, hubungan sebab-akibat antara kegiatan tersebut dan abrasi tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis. Dengan demikian, langkah penanganan dapat ditentukan secara tepat berdasarkan kondisi lapangan dan hasil kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

BBWS C3 diharapkan berperan dalam pemeriksaan teknis sesuai kewenangannya, termasuk menilai kebutuhan pembangunan pengaman tebing, pengendalian abrasi, atau bentuk perlindungan bantaran lain yang paling sesuai. Pemerintah Kabupaten Serang juga diharapkan mengoordinasikan penanganan dampak sosial dan ekonomi yang dialami masyarakat.

Evaluasi tersebut penting agar pelaksanaan tradisi pada masa mendatang tidak mengabaikan risiko lingkungan dan kepentingan warga yang tinggal serta mencari penghidupan di sepanjang aliran sungai.

Masyarakat Kampung Jambu berharap kejadian ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait bahwa abrasi bantaran sungai bukan persoalan yang bisa dianggap ringan.

Hari ini, warga menghadapi kehilangan tanaman dan hasil panen. Jika pengikisan tanah terus berlanjut, masyarakat khawatir dampaknya akan meluas dan menimbulkan ancaman yang lebih serius terhadap lahan pertanian, akses warga, bahkan permukiman di sekitar bantaran.

Karena itu, warga meminta agar pemeriksaan lapangan, pemetaan titik rawan, dan penyusunan langkah penanganan segera dilakukan. Pembangunan penahan bantaran sungai di lokasi yang membutuhkan juga diharapkan masuk dalam prioritas penanganan berdasarkan hasil kajian teknis.

Pemerintah daerah bersama BBWS C3, BPBD, Dinas Sosial, DPMD, BAZNAS, serta instansi terkait lainnya diharapkan membangun koordinasi agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri. Selain mitigasi jangka panjang, kerugian yang telah dialami para petani juga perlu mendapat perhatian melalui mekanisme bantuan yang sesuai.

Pada akhirnya, warga tidak menginginkan tradisi yang telah lama dikenal masyarakat menjadi sumber kekhawatiran bagi mereka yang tinggal di sekitar sungai. Mereka ingin tradisi tetap terjaga, tetapi keselamatan dan penghidupan masyarakat juga terlindungi.

Kini, masyarakat menunggu langkah nyata pemerintah. Jangan sampai abrasi yang hari ini mengikis lahan pertanian, kelak semakin mendekati rumah-rumah warga. Sebelum kerusakan meluas dan kerugian semakin besar, pemerintah perlu hadir, mendengar keluhan masyarakat, melakukan kajian, serta mengambil tindakan yang tepat. Sebab, melindungi warga sebelum bencana membesar jauh lebih penting daripada sekadar menangani akibat setelah semuanya terjadi.

(Suara Independen Jurnalis Indonesia)

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan
  • Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan
  • Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan
  • Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan
  • Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan
  • Petani Kehilangan Harapan Panen, Warga Khawatir Abrasi Meluas hingga Mengancam Permukiman; Bupati Serang dan BBWS C3 Diminta Segera Turun Tangan

Posting Komentar